- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Corner Kick (11); Gelombang PHK di Depan Mata

Oleh Guntur Marchista Sunan

INTREN.ID, BATAM – Siapa bisa membendung Covid-19? Mungkin itulah yang pertanyaan yang muncul di benak seluruh masyarakat dunia. Menjadi bencana global, sudah 215 negara terjangkit. Termasuk Indonesia. Belum juga ada titik terang kapan situasi ini berakhir.

Yang tampak betul dampak dari penyebaran virus beralias corona ini adalah dunia usaha. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di mana-mana. Sama sekali tidak bisa dihindari. Berbulan-bulan berlalu begitu saja tanpa ada perbaikan kondisi.

Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) mencatat, sekitar 3 juta pekerja terkena dampak. 1,7 juta sudah valid kena PHK atau sekadar dirumahkan dengan kompensasi pemotongan gaji atau tidak bergaji sama sekali. Sedangkan sisanya masih dalam tahap validasi data.

Stimulus yang diberikan pemerintah kepada pelaku usaha tidak juga memberi efek positif. Bagaimanapun juga, sektor usaha butuh pemasukan. Tidak mungkin hanya mengeluarkan duit untuk membayar operasional, sementara pemasukan yang diidamkan bertepuk sebelah tangan.

PHK memang menjadi opsi terakhir. Di saat pengusaha sudah tersudut, apalagi kala anggaran perusahaan kian menipis, maka efisiensi tenaga kerja menjadi hal yang harus dipertimbangkan. Menjadi solusi terakhir untuk menyelamatkan perusahaan.

Imbauan pemerintah agar perusahaan tak melakukan PHK kurang ampuh. Kita juga harus realistis. Tidak akan ada pengusaha yang mampu bertahan di situasi sulit seperti ini. Karena Covid-19 memukul semua sektor usaha. Tanpa terkecuali.

- ADVERTISEMENT -

Ekonom senior, Muhammad Chatib Basri dalam sebuah pernyataannya memberikan isyarat bahwa saat ini perusahaan-perusahaan hanya mampu bernapas sekitar 3-4 bulan. Anggap saja kondisi ini berlangsung mulai dari bulan Maret, maka waktu bernapas bagi dunia usaha adalah April, Mei, dan Juni .

Setelah Juni? Saya tidak berani membayangkan apa yang terjadi. Gelombang PHK akan bertambah besar. Jangankan Indonesia, Amerika Serikat yang begitu digdaya dari segi finansial saja dibuat bertekuk lutut oleh Covid-19. Negeri Paman Sam mati suri.

Barangkali, anjuran work from home yang digaungkan selama ini tidak akan pernah efektif. Masyarakat, baik pengusaha maupun pekerja juga butuh makan. Tidak bisa hanya mengandalkan bantuan pemerintah yang mungkin saja dianggap belum cukup memenuhi.

Tak sekadar soal isi perut. Tagihan kredit atau cicilan juga harus diperhitungkan pemerintah. Toh tetap saja mereka yang punya tanggungan ditagih terus-menerus. Lalu, dari mana membayarnya jika harus work from home. Pengusaha mana yang tahan dengan kondisi seperti ini.

Demikian juga dengan usaha menengah kecil mikro (UMKM). Di saat gelombang PHK terjadi, sudah pasti banyak masyarakat yang beralih profesi menjadi UMKM. Lah kalau semuanya menjadi pelaku UMKM, lalu siapa yang menjadi pembelinya.

Saya pikir ini menjadi tugas pemerintah. Toh mereka menjadi pejabat digaji oleh uang rakyat. Wajar jika rakyat menyalahkan pemerintah. Karena di saat pemerintah menerima gaji, rakyat justru tidak bergaji. (***)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.