Cerita dr Retno Arini Palupi, Dokter Muda yang Pilih Menjadi Relawan Medis Demi Menolong Sesama

INTREN.ID, BANDUNG – Sejak tahun 2014, dr Retno Arini Palupi mulai berkecimpung di dunia kerelawanan bersama Masyarakat Relawan Indonesia Aksi Cepat Tanggap (MRI-ACT). Berbagai aksi kemanusiaan pun telah membawa dokter muda tersebut ke berbagai tempat untuk meluaskan manfaat kebaikan dari profesinya.

Sosok dr Arini, seorang dokter yang juga tergabung dalam MRI, menjadi orang yang nyaris setiap hari dihubungi kala kebakaran hutan hebat melanda wilayah Riau pada September 2019 lalu.

Kala itu, dr Arini sedang bertugas di Riau untuk merespons kebutuhan medis warga terdampak bencana asap kebakaran. Bersama tim relawan yang lain, dia berjibaku untuk mencegah dampak buruk dari asap pada kesehatan.

Dalam beberapa pekan, dr. Arini bertugas di Riau untuk memberikan pelayanan kesehatan hingga dukungan psikososial. Pengalaman ini pun menjadi salah satu yang dia kenang hingga hari ini. Pasalnya, dokter yang juga bekerja di salah satu rumah sakit itu juga menjadi saksi bagaimana mencekamnya suasana kebakaran hutan dan kabut yang melanda Riau saat itu.

Dia merupakan salah satu tenaga kesehatan yang ikut bergabung dalam kerelawanan MRI. Tahun 2014 menjadi aksi pertamanya bersama MRI untuk merespons bencana banjir di Tanah Abang, Jakarta. Berawal dari ajakan seorang teman, kemudian dr Arini merasa ketagihan terlibat dalam aksi-aksi sosial.

“Kalau kita kasih bantuan ke orang lain, mereka itu bakal senang. Tapi sebenarnya, kita yang memberi jauh lebih senang,” ungkap dr Arini.

Menjadi dokter bukanlah cita-citanya saat ingin melanjutkan pendidikan tinggi. Perempuan yang minat dalam bidang seni itu sempat ingin melanjutkan sekolah di Institut Kesenian Jakarta.

- ADVERTISEMENT -

Namun, orang tuanya memberikan pengertian dan ingin salah satu dari lima anaknya menjadi dokter. Akhirnya, dr Arini pun melanjutkan sekolah kedokteran hingga akhirnya menjadi bagian dari tenaga kesehatan.

Pada Desember 2017 lalu, dr Arini jadi bagian dari tim ACT yang mendapatkan tugas di kamp pengungsian Rohingya di Kutupalong, Bangladesh. Lebih kurang dua pekan dia bertugas di sana untuk memberikan penyuluhan kesehatan, dukungan psikososial, hingga mendirikan klinik untuk memantau kesehatan muslim Rohingya yang saat itu terdampak konflik kemanusiaan di Myanmar.

Kekhawatiran dari keluarga serta semangat dr Arini untuk ikut misi kemanusiaan bersama ACT selalu mengiringi. Itu juga yang hadir kala dia kembali ikut dalam aksi kemanusiaan merespons bencana gizi buruk di Asmat, Papua pada 2018 lalu. Perjalanan yang panjang dan tak mudah menjadi kejutan bagi dr Arini. Pengalaman mengobati orang-orang pedalaman Papua hingga kesalahpahaman dengan kepala desa setempat jadi kenangan hingga detik ini.

“Sempat salah satu kepala desa di salah satu distrik di Asmat itu salah paham. Tapi akhirnya masalah selesai dan mereka semua, termasuk warga yang tinggal di dalam hutan, menyambut baik saat tahu saya (dan tim dokter lain) bertugas di salah satu puskesmas, karena ternyata di puskesmas di sana sudah sangat lama tidak ada dokter,” tutur dr. Arini.

Kini, dokter yang berdomisili di Bandung itu berharap bisa mendapat kesempatan untuk ikut dalam aksi kemanusiaan lainnya. Baginya, ikut aksi kerelawanan yang tidak berorientasi pada materi sama sekali tak membuatnya rugi, walau selalu ada pandangan bahwa seorang dokter telah melewati pendidikan dengan biaya besar dan harus bekerja dengan gaji besar juga.

Akan tetapi, itu tak jadi tujuan dr Arini. Baginya, meluaskan kebaikan sangat mengesankan untuk dijalani. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.