- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

BMI Interupsi Keras Jokowi, Peningkatan Covid-19 di Atas Tiongkok

INTREN.ID, JAKARTA – Sayap utama Partai Demokrat, Bintang Muda Indonesia (BMI) melakukan interupsi keras terkait naiknya angka Covid-19. Berdasarkan informasi media, kini yang terinfeksi Covid-19, di Indonesia per Senin (27/7/2020) mencapai 100.303 orang.

Jumlah itu lebih banyak dari Tiongkok dengan 83.664 kasus. Menurut ketua umum BMI Farkhan Evendi, pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih asyik dengan pesta artis dan pesta Pilkada Solo di Istana Negara di tengah pandemi.

“Ini tamparan keras, kita kaget dan hal ini benar-benar bagai petir bagi gugus tugas dan komite yang dibuat pemerintah. Kami berharap Presiden Joko Widodo menunjukkan kepemimpinan yang kuat. Sudahlah, berhenti dengan aneka sensasi yang tak penting terhadap pemberantasan Covid-19,” tegas Farkhan.

Baca juga: Indonesia Masih Krisis, Pasien Positif Corona Tembus 100 Ribu Lebih

Di samping itu, mantan aktivis Jogja yang kerap dipanggil Cak Farkhan, menyatakan bahwa pertambahan kasus baru terkonfirmasi Covid-19 masih menunjukkan tren tinggi. Hal ini membuat jumlah kasus positif terinfeksi kasus virus beralias corona di tanah air menunjukkan tanda belum melandai apalagi menurun. Sebagaimana media melansir, diprediksi bulan Oktober kasus Covid-19 tembus 400 ribu.

“Ini sungguh situasi gawat, jangan dipandang remeh. Ini persoalan nyawa manusia, di mana tanggung jawab negara atau pemerintah,” ujarnya dengan tegas.

- ADVERTISEMENT -

Ancaman reshuffle kabinet pun tak terbukti, dan BMI meyakini akan banyak blunder-blunder ke depan oleh pemerintah, baik terkait isu Covid-19 maupun isu “panas” baru yang mengganggu konsentrasi pemerintah menghadapi Covid-19.

BMI menyerukan kepada pemerintah untuk lebih serius dan tak takut pada virus oligarki yang terus menyetir pemerintah.

“Saya khawatir kebingungan dan ketakjelasan arah pemimpin akan mengakibatkan keguncangan baru di Indonesia,” sergahnya.

Apalagi, lanjut dia, di tengah peningkatan Covid-19 yang melebihi Tiongkok, yang notabene diduga sebagai sumber utama adanya virus itu.

“Kita sama sekali belum mempersiapkan dampak negatif secara ekonomi maupun sosial politiknya. Bisa dinilai, selama ini pemerintah salah arah dan tak memiliki kemantapan hati untuk mengambil kebijakan dan keberanian mengeksekusi sejumlah peraturan baik,” tukas Farkhan. (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.