Beredar Isu Rapid Test Corona untuk Perjalanan Dihapus, Ini Penjelasan Kementerian Kesehatan

INTREN.ID, JAKARTA – Belakangan muncul isu dihapuskannya surat keterangan RT-PCR maupun Rapid Diagnostic Test (RDT) atau rapid test virus corona baru (Covid-19) sebagai salah satu syarat bagi calon penumpang yang akan melakukan perjalanan domestik melalui darat, laut maupun udara.

Kabar ini beredar karena surat keterangan tersebut bakal diganti dengan pengisian Health Alert Card (HAC) dan pengecekan suhu tubuh sebagai screening awal di pintu masuk negara.

Kementerian Kesehatan (Kesehatan) melalui Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Achmad Yurianto lantas membantahnya. Dia menegaskan bahwa Surat Edaran Menteri Kesehatan serta Surat Edaran Gugus Tugas Penanganan Covid-19 perihal penggunaan rapid test hingga kini masih berlaku.

Dijelaskan, terbitnya surat edaran tersebut sebagai panduan bagi petugas yang berwenang. Dalam melakukan pengawasan terhadap pelaku perjalanan dalam negeri di bandar udara dan pelabuhan, juga pengawasan oleh dinas kesehatan daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota serta panduan bagi lintas sektor terkait maupun masyarakat dalam rangka menuju masyarakat produktif dan aman dari penularan Covid-19.

“Para penumpang dan awak alat angkut yang akan melakukan perjalanan dalam negeri wajib memiliki surat keterangan hasil pemeriksaan RT-PCR negatif atau surat keterangan hasil pemeriksaan rapid test antigen/antibodi nonreaktif,” beber Yuri.

Keduanya memiliki masa berlaku yang sama yakni paling lama 14 (empat belas) hari, sejak surat keterangan diterbitkan. Kendati membawa surat keterangan dengan hasil negatif ataupun nonreaktif, masyarakat diimbau selalu berhati-hati serta disiplin menerapkan protokol pencegahan dan pengendalian Covid-19 sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

HAC juga tetap wajib diisi oleh pelaku perjalanan sesuai pasal 36 UU no 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan agar dapat terus dipantau oleh dinas kesehatan setempat. HAC dapat diisi secara manual maupun secara digital dengan mengunduh electronic HAC (eHAC).

Pasalnya, moda transportasi umum sebagai lokus interaksi dan berkumpulnya banyak orang berpotensi tinggi sebagai sebagai klaster baru penularan Covid-19. Untuk itu, diperlukan kewaspadaan dini sebagai langkah antisipasi serta upaya kontrol agar Covid-19 tidak semakin meluas.

Lebih lanjut, Yuri menjabarkan sesuai Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 yang terbit pada 13 Juli 2020 lalu, rapid test tidak digunakan untuk diagnostik. Namun demikian, penggunannya tetap dilakukan dalam situasi tertentu.

“Penggunaan rapid test tetap dilakukan pada situasi tertentu seperti dalam pengawasan pelaku perjalanan,” bebernya.

Pada pedoman tersebut dijelaskan dalam rangka pengawasan pelaku perjalanan dalam negeri (domestik), seluruh penumpang dan awak alat angkut dalam melakukan perjalanan harus dalam keadaan sehat dan menerapkan prinsip-prinsip pencegahan dan pengendalian Covid-19. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.