Belajar Kegagalan dari Pendiri Tokopedia, William Tanuwidjaya

2

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

INTREN.ID, JAKARTA – Oktober 2014, jagat digital Indonesia heboh dengan suntikan dana USD 100 juta dari Softbank Internet and Media dan Sequoia Capital untuk Tokopedia, sebuah situs e-commerce Indonesia. Sontak saja Tokopedia menjadi bintang baru di dunia digital.

Tokopedia dirintis oleh William Tanuwidjaya. Lahir di Pematangsiantar, Sumatera Utara, 11 November 1981, dia mengenyam pendidikan sekolah dasar hingga menengah di kampung halamannya. Ia baru meninggalkan tempat kelahirannya saat meneruskan kuliah di Jakarta.

Inilah pertama kali William meninggalkan kampung halamannya, diberikan kesempatan oleh ayah dan pamannya untuk melanjutkan kuliah di Jakarta. William sangat bersemangat dan dengan hati yang penuh rasa penasaran itu ingin segera sampai di Jakarta.

Waktu itu, ia menaiki kapal selama 4 hari 3 malam untuk sampai ke Jakarta. Ia mengambil kuliah di Universitas Bina Nusantara. Datang ke Jakarta tak hanya untuk kuliah. Namun dia mengisi waktu senggangnya dengan bekerja sambilan sebagai operator di warung internet (warnet) setiap harinya dari jam 9 malam hingga 9 pagi. Walaupun  sibuk kuliah sambil bekerja, ia berhasil meraih gelar sarjana Teknik Informasi pada tahun 2003.

Saat lulus kuliah, ia memilih untuk bekerja kantoran di beberapa perusahaan  yang bergerak dalam industri pengembangan software. Pertama ia bekerja selama empat bulan PT Boleh Net Indonesia,  terus pindah ke PT Signet Pratama selama sembilan bulan, dan berlanjut  masih sebagai software developer di PT Sqiva Sistem hingga Maret 2005.

Berbekal dengan keahliannya dan pengalaman yang ia miliki, William dipercaya menjabat menjadi IT and Business Development Manager di PT Indocom Mediatama selama kurang lebih dua tahun. Pada tahun 2007, ia mendapatkan ide untuk membangun Tokopedia dengan konsep mal online.

Walaupun William bukan berlatar belakang dari keluarga berbisnis, ia memiliki tekad yang kuat untuk membangun bisnis mal online ini. Saat sedang membangun bisnisnya, ayahnya divonis kanker, ia tak pulang, karena ia tidak bisa meninggalkan pekerjaanya karena ia satu-satunya pencari nafkah di keluarganya. Hasil kerjanya inilah yang membantu biaya orang tua.

Selama dua tahun berusaha akhirnya atasan dari tempat ia bekerja memberikan modal sebesar sepuluh persen dengan menggandeng Leontinus Alpha Edison, rekan kerjanya. Kini, hasil buah tangannya toko online bernama Tokopedia, makin besar. Semua barang ada di sini, penjualnya banyak.

“Tokopedia sebenarnya lebih banyak cerita gagalnya,” kata William.

Tak banyak yang tahu kalau kesuksesan perusahaan e-commerce asal Indonesia ini justru diawali dengan rentetan kegagalan. Bahkan dengan berani, William menyebut dirinya telah gagal, bahkan sebelum mengembangkan Tokopedia.

Ceritanya dimulai dari 2009 saat William mencoba mencari investor untuk Tokopedia. Ia juga mencari pekerja pertama dan bank serta perusahaan logistik. Sejak awal Tokopedia didirikan agar seluruh masyarakat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke bisa memiliki kesempatan yang sama untuk berusaha, mengakses, hingga membeli barang.

Dengan Tokopedia-nya, William ingin menciptakan pemerataan ekonomi lewat ekonomi digital. Itulah mimpi besar William. Namun, sampai dua tahun, upaya itu tak membuahkan hasil. Tak ada orang yang percaya dengan mimpinya itu.

Maklum, saat itu ekonomi digital memang belum memiliki rekam jejak di Indonesia. William pun tak punya rekam jejak merintis usaha. Dia justru dapat nasihat dari seseorang yang ia harapkan menjadi investor Tokopedia.

“Dia mengatakan, kamu masih muda dan muda itu cuma sekali. Jangan sia-siakan masa mudamu. Orang-orang yang lahir dari Silicon Valley itu spesial, sedangkan kamu tidak. Carilah yang realistis, jangan mimpi siang bolong,” ujarnya menirukan kata-kata orang itu.

- Advertisement -

Saat itu William sadar bahwa Indonesia tidak memiliki mimpi besar layaknya Silicon Valley dengan “American Dream-nya”. Namun, pemuda asal Pematangsiantar itu justru ingat kata-kata yang pernah disampaikan oleh Bung Karno, “Bermimpilah setinggi langit. Bila engkau jatuh, maka jatuh diantara bintang-bintang”.

Baginya, itulah “Indonesia Dream”. Satu hal yang ia sadari, rekam jejak adalah masa lalu dan masa lalu itu tak bisa diubah. Namun pengalaman adalah guru terbaik, ia belajar dari kegagalan selama dua tahun awal. Kata-kata Bung Karno membuatnya percaya bahwa ia punya masa depan dan masa depan itulah yang ada ditangannya.

Setelah 10 tahun, kini Tokopedia menjadi salah satu unicorn Indonesia, alias perusahaan rintisan yang mempunyai valuasi pasar USD 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Bahkan sekarang nilai pasar Tokopedia sudah lebih dari Rp 100 triliun.

“Dengan ekonomi digital masyarakat dimanapun itu punya kesempatan yang sama dan terbukti saat ini, internet tidak hanya mengubah hidup saya, tetapi juga jutaan orang di Tokopedia,” kata dia.

Dalam sembilan tahun terakhir ada 5 juta orang yang bergabung dengan Tokopedia, membangun dan mengembangkan bisnis mereka. Sekitar 70 persen di antaranya, awalnya tidak punya bisnis. Namun sekarang, mereka memiliki bisnisnya sendiri. Mulai dari ibu rumah tangga hingga mahasiswa dan pelajar.

Tokopedia dibentuk untuk menjadi tempat berkumpulnya para penjual untuk memasarkan barang mereka sekaligus menjadi tempat berkumpulnya para pembeli yang membutuhkan barang-barang tertentu. Itu adalah misi pertama dari Tokopedia.

Memasuki tahun 2019, Tokopedia telah berhasil merasuk ke dalam top of mind masyarakat Indonesia dan William sang pendiri juga berdiri sebagai sosok yang membanggakan keluarganya karena berkat hasil kerja keras, usaha dari orang tua, dan tekad yang bulat, dia sukses menjadi pendiri website marketplace asal Indonesia yang mendapatkan pengakuan dunia. (***)

Biodata

  • Nama: William Tanuwidjaya
  • Lahir: Pematangsiantar, 11 November 1981
  • Pasangan: Felicia HW

Pendidikan

  • SD-SMA di Pematang Siantar, Sumatera.
  • Universitas Bina Nusantara, Teknik Informasi

Karier

  • Game Developer, PT Boleh Net Indonesia (Juni 2003-September 2003)
  • Software Developer,  PT Signet Pratama (September 2003-Mei 2004)
  • Software Developer, PT Sqiva Sistem (Mei 2004-Maret 2005)
  • IT and Business Development Manager, PT Indocom Mediatama (Oktober 2006-Desember 2008)
  • Co-founder, CEO  PT Tokopedia (Januari 2009-saat ini)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More