- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Begini Penjelasan Kapolresta Barelang Terkait Kematian Hendri Alfred alias Otong

INTREN.ID, BATAM – Kabar meninggalnya seorang tahanan di Mapolresta Barelang, pasca ditangkap beberapa hari sebelumnya membuat Kapolresta Barelang Kombes Pol Purwadi Wahyu Anggoro angkat bicara. Tahanan bernama Hendri Alfred Bakary alias Otong itu sebelumnya diduga terlibat peredaran narkoba.

Kata Purwadi, pihaknya masih menunggu hasil visum dari tim medis RS Bhayangkara, Polda Kepri, untuk mengetahui penyebab pasti kematian Otong. “Penangkapan sesuai prosedur, tidak akan ada penganiayaan, terkecuali melawan, polisi berhak melakukan upaya paksa,” ucapnya, Rabu (12/8/2020).

Purwadi mengungkapkan, Otong bukan merupakan terduga pelaku yang berdiri sendiri dalam kasus narkotika yang sedang ditangani Polresta Barelang. Dia menyebut Otong masuk dalam jaringan peredaran narkoba, dan menjadi bagian dari pengembangan kasus narkotika jenis sabu sebanyak 38 kg yang berhasil diamankan Lanal Batam beberapa waktu lalu.

Dari pemeriksaan sementara terhadap tiga orang saksi yang diamankan bersama Otong, Purwadi mengatakan terdapat barang bukti sebanyak 106 kg sabu yang masih disimpan di suatu tempat.

“Hasil riksa, saksi sempat melihat barang (sabu) tersebut dan sudah sebagian beredar. Sisa sekira 106 kg tersebut. Barang itu belum ditemukan karena Otong yang simpan. Kami masih cek beberapa lokasi yang mungkin sebagai tempat menyimpan,” kata Purwadi.

Bahkan, Purwadi mengatakan jumlah awal sabu-sabu yang dimiliki Otong sangat banyak. Malahan bisa lebih dari 106 kg yang mana barang itu berasal dari Malaysia.

Polisi belum dapat memastikan apakah Hendri terlibat dalam jaringan internasional atau tidak. Kendati demikian, Purwadi menyatakan kasus narkoba merupakan kasus yang tidak dapat ditoleransi.

“Internasional atau tidaknya kami belum bisa pastikan, kalau lihat jumlahnya ada indikasi. Tetapi, sampai di manapun, kalau narkoba kami tidak ada toleransi. Berapa banyak jiwa yang akan hancur kalau 106 kg ini menyebar?” ujarnya.

- ADVERTISEMENT -

Secara tegas, Purwadi mengatakan akan melakukan pemeriksaan internal terhadap penyidik yang disebut-sebut telah melakukan penganiayaan terhadap Hendri. “Pasti. Kami profesional. Kalau ada anggota yang terbukti bersalah akan kita beri sanksi,” katanya.

Namun keluarga Hendri mengaku tidak mengetahui motif penangkapan terhadap almarhum. Sepupu almarhum Christie Bakary mengaku informasi Hendri menyimpan narkoba masih simpang siur.

“Jadi, ada yang cerita bahwa Kak Hendri tiba-tiba ditangkap. Ada lagi yang cerita Kak Hendri lagi ‘make’ terus ketangkap. Itu beritanya sampai sekarang kita masih simpang siur,” ujarnya.

Keluarga juga menduga Hendri alias Otong meninggal karena dianiaya polisi. Bahkan kata Christie, saat proses penggeledahan di kediaman Hendri, 7 Agustus 2020, istri Otong sudah melihat sejumlah bekas darah di baju suaminya yang sedang menunggu di kapal.

“Bahkan ketika polisi masuk tanpa surat perintah, mereka masuk menggeledah. Sementara di rumah hanya ada anaknya umur 13 tahun,” ujar dia.

Christie juga menuntut permintaan maaf dari Kapolresta Balerang. Selain itu dia menuntut pengusutan kasus kematian saudaranya secara tuntas. Keluarga bahkan berencana melaporkan kasus ini ke Divisi Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri.

Christie juga membantah pernyataan salah satu pihak yang mengatakan korban meninggal akibat asma yang dideritanya. Karena tak ada keluarga Hendri punya riwayat penyakit asma. “Baik dari pihak keluarga dari papa, maupun mamanya enggak ada asma. Jadi kecil kemungkinan Kak Otong ada asma,” ucapnya. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.