Beberapa Obat yang Digadang-gadang Mampu Atasi Covid-19

Remdesivir Jadi Calon Kuat

INTREN.ID, SAN FRANCISCO Perlombaan untuk menciptakan antibiotik pembunuh Covid-19 terus dilakukan. Negara-negara maju terus menguji berbagai obat yang bisa menghentikan virus beralias corona itu.

Menurut para ahli, ada puluhan obat yang bisa menghentikan infeksi corona di tubuh. Mulai dari Remdesivir, Hydroxychloroquine, Plitidepsin, Clemastine, hingga Haloperidol.

Sekadar informasi, Remdesivir dulunya disiapkan untuk mengatasi ebola, namun gagal. Sementara Hydroxychloroquine adalah antivirus malaria. Plitidepsin selama ini digunakan untuk terapi kanker eksperimental PharmaMar. Sedangkan Clemastine dan Haloperidol adalah obat alergi.

Peneliti memetakan protein dalam sel apa saja yang diincar virus. Tanpa protein tertentu, virus tak bisa menggandakan diri dan menginfeksi tubuh seseorang.

“Virus itu seperti binatang buas, tetapi rapuh. Tanpa asupan tertentu, mereka akan kelaparan dan berhenti menginfeksi,” ujar Brian Shoichet, pakar kimia farmasi University of California San Francisco.

Sejauh ini, Remdesivir menjadi kandidat kuat lantaran sudah diuji. Pemerintah AS memang sedang membanggakan Remdesivir yang dikembangkan Gilead Sciences. Obat yang dulu gagal mengobati ebola tersebut kini diklaim bisa mengobati Covid-19. Selain itu, Presiden AS Donald Trump terus memuji obat antivirus malaria, Hydroxychloroquine.

Penelitian tersebut juga menguji Hydroxychloroquine. Mereka menemukan bahwa obat tersebut memang bisa memblokir infeksi corona. Namun, ia juga menyerang beberapa protein di lapisan jantung yang mengakibatkan gangguan pada organ tersebut.

- ADVERTISEMENT -

Penasihat kesehatan Gedung Putih, Dr Anthony Fauci mengatakan, uji coba obat remdesivir oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) menunjukkan “kabar baik”. Uji coba itu melibatkan sekitar 800 pasien.

Remdesivir sendiri dikembangkan Tiongkok pada Februari 2020. Bahkan Tiongkok telah mengajukan permohonan untuk mematenkan obat tersebut.

Remdesivir sendiri sudah diujicoba untuk mengobati pasien Covid-19 dan hasilnya pasien tersebut membaik. Gilead Sciences setuju dan mendukung Kementerian Kesehatan Tiongkok untuk melakukan uji klinis terhadap obat ini.

Remdesivir diketahui sempat diujikan terhadap tikus dan kelelawar yang terinfeksi Covid-19, termasuk MERS dan SARS. Hasilnya, obat tersebut dikombinasikan dengan senyawa NHC yang dapat melawan Covid-19.

Dari percobaan ini, Remdesivir dan NHC mampu menghalangi replikasi virus dengan mengganggu kemampuan mereka dalam melakukan mutasi genetik. Di sisi lain, obat tersebut dianggap akan efektif apabila diterapkan pada pasien Covid-19.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah mengizinkan penggunaan Remdesivir untuk pengobatan darurat Covid-19. Obat tersebut dapat digunakan pada orang yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 yang parah. (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.