- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Bea Cukai Batam Pastikan PS Adalah Putra Siregar, Youtuber Sekaligus Pengusaha Batam Pemilik PS Store

Tersangka Kasus Peredaran Ratusan Handphone Ilegal, Kini Berstatus Tahanan Kota

INTREN.ID, BATAM – Siapa sebenarnya PS, tersangka kasus peredaran barang ilegal yang diungkap Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai Jakarta, akhirnya terungkap. Dia adalah Putra Siregar, Youtuber sekaligus pengusaha Batam pemilik PS Store, toko handphone dengan tagline “HP Pejabat, Harga Merakyat”.

Kepastian soal identitas itu disampaikan Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai Kota Batam, Sumarna, Selasa (28/7/2020).

“Siap, info dari BC Kanwil Jakarta benar dia (Putra Siregar, Red.),” jelasnya kepada intren.id. Saat ini kasus tersebut sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Timur.

Selasa siang, Putra Siregar melakukan live streaming di Facebook. Diduga itu terkait kasus yang menjeratnya. Dia mengaku jika dirinya dijebak. “Aku dijebak di 2017. Pertama kali aku nginjak di Jakarta,” demikian kutipan ucapan Putra Siregar. Berikut video klarifikasi lengkap Putra Siregar yang diunggah di Group Facebook Putra Siregar Merakyat:

Dari pantauan media ini di PS Store Selasa siang, suasana masih tetap melayani pembeli dan tidak adanya penutupan atau perubahan layanan. Bahkan, seorang karyawan di gerai PS Store mengungkapkan bahwa pihaknya tidak mengetahui apapun perihal informasi yang beredar.

Baca juga: Bea Cukai Jakarta Amankan 190 Handphone Ilegal, Ini Wajah Tersangka PS

“Maaf mas kami enggak tahu, kami masih sibuk siapin hewan kurban,” kata salah seorang karyawan dengan singkat.

Dari Jakarta, Kasi Bimbingan Kepatuhan dan Kehumasan, Kantor Wilayah Bea dan Cukai Jakarta Ricky M Hanafie juga membenarkan bahwa PS yang dimaksud adalah Putra Siregar. “Iya benar (Putra Siregar, Red.). Pemilik toko. Owner-nya PS Store,” kata Ricky kepada wartawan.

Kasus ini, lanjut dia, terkait dua gerai PS Store di wilayah Cililitan dan Tangerang. “Ada informasi dari masyarakat, kami tindaklanjuti dan ternyata kedapatan di salah satu toko itu, ada barang-barang handphone yang tidak diberitahukan dokumen kepabeanan,” terangnya.

Sementara Kepala Seksi Intelijen Kejari Jakarta Timur, Ady Wira Bhakti mengatakan, Putra Siregar kini menjadi tahanan kota.

“Sekarang jadi tahanan kota selama 20 hari,” kata Ady. Sementara, barang bukti berada di ruang barang bukti kejaksaan.

- ADVERTISEMENT -

Barang bukti yang disita kejaksaan, di antaranya:

  1. 190 Handphone bekas berbagai merek
  2. Uang tunai hasil penjualan sejumlah Rp 61.300.000
  3. Uang tunai senilai Rp 500.000.000
  4. Rumah senilai Rp 150.000.000
  5. Rekening bank senilai Rp 50.000.000
  • Totalnya: Rp 1.761.300.000. (Rp1,76 Miliar)

Diberitakan, Kantor Wilayah (Kanwil) Bea dan Cukai Jakarta berhasil mengungkap kasus peredaran barang ilegal. Kamis (23/7/2020) lalu mereka menyerahkan barang bukti dan tersangka ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Timur. Kabar itu terungkap melalui situs resmi,  akun Instagram, dan Fanpage Facebook Kanwil Bea Cukai Jakarta, Senin (27/7/2020).

“Bea Cukai secara konsisten terus melakukan pengawasan terhadap kegiatan peredaran barang-barang ilegal. Pada hari Kamis, tanggal 23 Juli 2020, Kantor Wilayah Bea dan Cukai Jakarta telah melakukan Tahap II (Penyerahan Barang Bukti dan Tersangka) ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur atas hasil penyidikan tindak pidana kepabeanan. Penyerahan barang bukti dan tersangka tersebut dilaksanakan atas pelanggaran pasal 103 huruf d Undang-undang No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan,” demikian bunyi pernyataan itu.

Jika mengacu pada pasal itu, Putra Siregar terancam penjara paling singkat dua tahun dan paling lama delapan tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.

Dalam keterangannya, tersangka berinisial PS telah diserahkan beserta barang bukti antara lain 190 handphone bekas berbagai merek dan uang tunai hasil penjualan sejumlah Rp 61.300.000.

“Selain itu, juga diserahkan harta kekayaan/penghasilan tersangka yang disita di tahap penyidikan, dan akan diperhitungkan sebagai jaminan pembayaran pidana denda dalam rangka pemulihan keuangan negara (Dhanapala Recovery) yang terdiri dari uang tunai senilai Rp 500.000.000, rumah senilai Rp 1,15 miliar, dan rekening bank senilai Rp 50.000.000,” tambah pernyataan itu lagi.

Penyerahan barang bukti dan tersangka tersebut, lanjut pernyataan itu, merupakan salah satu bentuk komitmen Bea Cukai untuk melindungi masyarakat dari peredaran barang-barang ilegal serta mengamankan penerimaan negara. Ke depannya, Kanwil Bea Cukai Jakarta akan terus berusaha melindungi industri dalam negeri sehingga penerimaan negara dapat optimal.

“Nah Sobat K’Jak, yuk lebih bijak dan berhati-hati dalam berbelanja meski diiming-imingi dengan harga yang murah. Jangan sampai Sobat membeli produk-produk yang ilegal ya. Karena berbelanja produk #legalitumudah kok,” tutup pernyataan itu. (***)

 

Reporter: Agung Maputra, Lukman Maulana

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.