- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Batam Punya 21 Cagar Budaya, Termasuk Sumur Tua di Pulau Buluh

INTREN.ID, BATAM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam telah selesai melakukan pendataan ulang cagar budaya di kawasan mainland dan hinterland Kota Batam. Kepala bidang kebudayaan Disbudpar Kota Batam M Zen, mengatakan, cagar budaya tersebut nantinya akan didaftarkan ke Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman.

Hingga saat ini, sebanyak 21 cagar budaya ada dalam catatan Disbudpar Kota Batam. Beberapa di antaranya terdapat di Kecamatan Bulang tepatnya Pulau Buluh.

Kata Zen, di Pulau Buluh terdapat tiga cagar budaya. Di antaranya sumur atau perigi tua. Yang memiliki kedalaman 7 meter. Sumur ini mewakili situs tertua yang masih dapat dideteksi jejaknya di pulau bersejarah.

Perigi tua ini berdiameter 1,6 meter. Dengan susunan batu bata yang masih bertuliskan ‘Batam Brick Works’ yang diproduksi pabrik batu bata pertama di Batam. Pabrikan tersebut didirikan oleh Raja Ali Kelana bersama seorang pengusaha kaya dari Singapura bernama Ong Sam Leong, sekira tahun 1898 silam.

Kemudian masjid bernamakan Masjid Tua Jami’ Nurul Iman. Masjid tersebut diperkirakan didirikan pada 1872. Namun, kontruksi aslinya kini sudah tidak terlihat. Terdapat pula makam keramat yang diberi nama ‘Makam Keramat Puding’, terletak di halaman masjid.

“Meskipun tidak terdapat tulisan apapun untuk mengetahui siapa penghuni makam. Namun menurut cerita warga sekitar, makam tersebut adalah makam putri salah satu Kerajaan Bintan yang jatuh sakit saat melewati Pulau Buluh. Nama puding sendiri diambil dari pohon yang tumbuh besar di situs pemakaman tersebut sewaktu dikebumikan,” ungkap Zen.

Sementara itu, Kadisbudpar Kota Batam Ardiwinata mengatakan, pendataan ulang cagar budaya ini penting dilakukan agar memiliki data yang lengkap tentang cagar budaya yang ada di Batam.

- ADVERTISEMENT -

Ditambahkannya, cagar budaya ini termasuk salah satu dari dua belas objek Pemajuan Kebudayaan Melayu yang tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Batam Nomor 1 Tahun 2018 tentang Pemajuan Kebudayaan Melayu.

“Cagar budaya perlu dilestarikan keberadaannya, karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Di samping itu juga untuk mengenalkan kekayaan cagar budaya yang kita miliki serta meningkatkan kepedulian khususnya kepada generasi muda kita dalam pelestarian warisan budaya,” kata Ardi.

“Cagar budaya harus kita jaga dan pelihara agar sejarah tidak terlupakan dan hilang ditelan zaman,” tegasnya.

Diketahui sebanyak 21 cagar budaya terdapat di Batam. Di antaranya Makam Nong Isa, Komplek Pemakaman Temenggung Abdul Jamal, Makam Tua Aceh, dan Kantor Imigrasi di Belakang Padang.

“Kami akan terus berupaya untuk menemukan cagar budaya lainnya yang mungkin masih ada di Kota Batam,” ungkapnya. (***)

Reporter: Agung Maputra

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.