Batam Diguyur Hujan, Apa Kabar DAM Duriangkang dan Penyebaran Covid-19

INTREN.ID, BATAM – Sejak satu pekan terakhir, Kota Batam telah diguyur hujan meskipun dalam intensitas yang cukup rendah, seperti yang terjadi pada Minggu (12/4/2020) pagi ini, dimana hujan mulai mengguyur kawasan Batam.

Dengan turunnya hujan di Kota Batam, tentunya membawa kabar gembira bagi masyarakat Batam, yang sebelumnya dihantui dengan kabar akan terjadi krisis air yang di mulai dengan penggiliran pendistribusian air dari Adi Tirta Batam (ATB).

Tersiarnya kabar penggiliran tersebut, langsung mendapat tanggapan cepat dari warga Batam dengan menyediakan beberapa penampungan air seperti jerigen dan Drum untuk mencukupi kebutuhan pada saat penggiliran dilakukan.

Seperti yang diutarakan oleh Sinta seorang ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di kawasan Batu Aji.

“Kita usahakan buat beli drum, meski harganya sekarang naik lebih dari 2 kali lipat, biar bisa memenuhi kebutuhan,” katanya beberapa waktu lalu saat dilemui di lokasi penjualan drum.

Namun, setelah drum tersebut dibeli dengan harga yang cukup tinggi, ATB akhirnya menunda rencana penggiliran, setelah mendapat instruksi dari BP Batam.

Hal tersebut, mendapatkan respon yang cukup baik, dari masyarakat Batam. Terlebih banyak yang tidak mampu membeli drum, karena harga yang cukup tinggi.

Akan tetapi menurut ATB, hujan dengan intensitas yang cukup rendah tersebut, masih belum cukup membuat air di level waduk Duriangkang membaik.

Kondisi waduk Duriangkang yang belum ada kenaikan level air, meski hujan telah mengguyur Kota Batam. (Dok. ATB)

Level air masih terus mengalami penyusutan, hingga mencapai minus 3,55 meter dari permukaan bangunan pelimpah.

“Intensitas hujan yang turun belum cukup mengerem lajunya penyusutan,” ucap Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus, beberapa waktu lalu.

Apabila hujan dalam beberapa waktu ini masih belum mampu mengembalikan level di DAM Duriangkang, maka sebanyak 220 ribu lebih pelanggan, akan terancam mengalami kendala pendistribusian.

Namun, dengan turunnya hujan tersebut, menjadi kekhawatiran baru di tengah pandemi covid-19, seperti yang disampaikan oleh Kepala Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati.

Ia menyebutkan, bahwa iklim cuaca mempunyai pengaruh bagi penyeberan virus covid-19.

Hasil penelitian tim BMKG tersebut, diperkuat oleh 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Matematika.

Serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM.

- ADVERTISEMENT -

Dari hasil tersebut, menunjukan sebaran kasus Covid-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara, bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Corona Covid-19
ilustrasi. (intren.id)

Seperti penelitian dari Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) yang menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8 hingga 10 derajat Celcius dan kelembapan 60hinggs 90 persen.

Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi llingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus COVID-19.

Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi COVID-19.

Dan penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) yang menyatakan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1° C) dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari.

Mereka menunjukkan bahwa covid-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1-9° C).

Artinya semakin tinggi temperatur, maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah.

Jadi, hasil kajian dari Tim Gabungan BMKG bersama UGM, menjelaskan bahwa analisis statistik bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang linggi.

Disampaikan juga bahwa kondisi cuaca dan iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah Covid-19.

“Tapi, pada gelombang ke dua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial,” kata Dwikorita.

Ia melanjutkan, fakta baru menunjukkan bahwa kasus Gelombang ke-2 Covid-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu.

“Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia,” imbuhnya. (***)

 

Reporter: Agung Maputra

Editor: Guntur Marchista Sunana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.