Banyak Dikritik, PPDB DKI Jakarta Sistem Zonasi Berdasar Usia Tetap Dilanjutkan

INTREN.ID, JAKARTA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tetap membuka penerimaan peserta didik baru (PPDB) dengan sistem zonasi, Kamis (25/6/2020) hari ini. Sekalipun banyak kritik yang datang lantaran sistem zonasinya menggunakan seleksi utama berdasar usia.

“Untuk PPDB kami sudah menjadwalkan. Dinas Pendidikan itu membawahi seluruh anak-anak, kami akan lanjut dengan proses besok hari (Kamis hari ini, Red.). Nanti akan dilakukan evaluasi setelah proses ini selesai,” sebut Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana, Rabu (24/6/2020) di DPRD DKI Jakarta.

Dijelaskan, PPDB dengan tahap zonasi dibuka dalam hari ini hingga Sabtu (27/6/2020). Sedangkan tahap seleksi afirmasi dan tahap prestasi non akademik sudah dilakukan.

Dalam hal ini Pemprov tidak menggunakan ukuran jarak sebagai cara seleksi jika kuota zonasi penuh di satu sekolah. Melainkan memakai sistem umur, yaitu umur paling tua lebih besar berpeluang masuk.

Hal inilah yang dipersoalkan para orang tua calon siswa. Termasuk juga anggota DPRD DKI Jakarta. Pasalnya mereka meminta ukuran jarak paling dekat lebih diutamakan ketimbang usia.

“Kita tadi dipermasalahkan. Daerah lain pakai jarak, Anda lebih paham kisruh atau tidak. DKI sudah rumuskan ini dari tiga tahun lalu, kami tidak ubah ini,” klaim Nahdiana.

Kritik datang salah satunya dari Fraksi Partai Demokrat DPRD DKI Jakarta. Demokrat menyesalkan masih digunakannya jalur zonasi syarat usia dalam PPDB.

“Ini sangat disayangkan. Padahal pemerintah pusat memberikan wewenang ke daerah menetukan proposi final dan menetapkan wilayah zonasi,” ujar Ketua Fraksi Demokrat DPRD DKI Desie Christhyana, Kamis (25/6/2020).

Menurut dia, adanya pembatasan usia dapat menghalangi anak usia muda yang memiliki prestasi untuk melanjutkan sekolah. Sistem ini, sebut Desie, tidak sesuai program merdeka belajar yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim.

Lantaran adanya aturan pembatasan usia membuat anak-anak usia muda dan mempunyai kepandaian tidak bisa mendapatkan sekolah yang baik atau favorit.

“Karena setiap anak anak mempunyai keunikan masing-masing dan kemampuan anak-anak berbeda dalam tingkat kematangan. Seharusnya pemerintah memperhatikan. Itu tidak sesuai dengan program Merdeka Belajar yang digemborkan oleh Pak Menteri,” beber Desie. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.