Banjir Misinformasi di Tengah Tsunami Covid-19 di India, Penyebaran Hoaks Merajalela Akibat Masyarakatnya Kurang Baca

INTREN.ID, NEW DELHI – Banjir misinformasi mengiringi “tsunami” Covid-19 yang melanda India sejak pertengahan April 2021. Berbagai hoaks menyangkut virus beralias Corona dan vaksin mengalir lebih deras ketimbang biasanya ke ponsel-ponsel warga negara tersebut, di tengah terjadinya krisis tempat tidur dan oksigen di rumah-rumah sakit.

Dikutip dari Nawala Tempo, sebuah pesan berantai yang viral baru-baru ini berisi ajakan untuk menolak vaksinasi, dan mengklaim bahwa “dapur rumah tangga India berisi segala hal yang dibutuhkan untuk meningkatkan kekebalan”.

Penulis Wired, Devika Khandelwa, yang membagikan kisah itu. Pesan tersebut masuk ke ponsel ibunya. Dalam pesan ini, ada pula klaim palsu bahwa “Covid-19 adalah bakteri, bukan virus” dan“virus Corona diciptakan di laboratorium Cina”. Tak hanya ponsel ibunya, ponsel ayah Khandelwa juga menerima berbagai hoaks, yang masuk lewat WhatsApp. L

Dia menemukan pesan dari tokoh antivaksin, seperti Robert F Kennedy Junior dan Biswaroop Roy Choudhary, yang menganggap virus Corona tidak ada dan mengklaim memiliki “bukti” bahwa pemerintah berbagai negara dan organisasi internasional menipu orang.

Menurut Khandelwa, misinformasi Covid-19 yang paling sering beredar di India, dan terus diulang-ulang, adalah bahwa sistem pengobatan alternatif dapat diandalkan untuk “meningkatkan kekebalan” dan memerangi Covid-19.

Yang paling populer di India adalah Ayurveda, sistem kepercayaan kuno yang berarti “Ilmu Kehidupan”, termasuk praktik vegetarianisme, meditasi, yoga, serta penggunaan jamu dan rempah-rempah. Praktik Ayurveda dipuja oleh banyak orang India, termasuk pemerintah.

Di tahun pertamanya menjabat pada 2014, Perdana Menteri India, Narendra Modi membentuk Kementerian AYUSH, yang ditugaskan untuk mempromosikan penggunaan Ayurveda dan metode pseudosains lainnya di India. Selama pandemi, komunikasi yang dilakukan oleh kementerian ini membingungkan.

Situsnya berisi informasi tentang “pencegahan dan pengobatan Covid-19”, termasuk dokumen dan infografis berisi promosi perawatan medis yang belum terbukti kemanjurannya. Pernyataan bahwa metode Ayurveda bukan obat Covid-19 memang dicantumkan, tapi berada di bagian akhir.

Misinformasi seputar Covid-19 telah memenuhi ruang maya warganet India sejak pandemi dimulai. Pada Maret 2020, sebuah kelompok keagamaan mengadakan pesta minum air kencing sapi di New Delhi. Sebelumnya, seorang pemimpin Partai Bharatiya Janata (BJP) mengatakan urin dan kotoran sapi “dapat mengobati infeksi virus Corona”.

Baru-baru ini, Sekretaris Jenderal BJP juga membuat cuitan berisi foto petugas kepolisian yang menghirup uap di Mangalore di negara bagian Karnataka. Kata seorang inspektur polisi, cara itu merupakan tindakan pencegahan yang “membantu” yang “membuat petugas merasa rileks”.

Menurut pemeriksaan fakta oleh CNN, hanya ada sedikit bukti bahwa pengobatan lokal dapat mencegah atau mengobati Covid-19. Sejumlah organisasi kesehatan pun telah membantah beberapa praktik tersebut.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan “belum ada obat untuk Covid-19 yang telah diketahui dan tidak ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa menghirup uap dapat membantu” mencegah infeksi virus Corona. Justru, hal ini dapat menyebabkan “luka bakar serius jika tidak dilakukan dengan benar”.

Pada pertengahan April 2021, ketika jumlah kasus Covid-19 di India mulai meroket, VK Paul, pejabat senior pemerintah yang berada di garis depan penanganan virus Corona, merekomendasikan agar orang-orang berkonsultasi dengan praktisi terapi alternatif jika mereka menderita penyakit ringan atau tanpa gejala.

Dia juga menyarankan warga mengkonsumsi chyawanprash (suplemen makanan) serta kadha (minuman herbal dan rempah-rempah) untuk meningkatkan kekebalan.

Pernyataan itu memicu kritik dari para dokter, bahwa rekomendasi tersebut dapat mendorong orang untuk mencoba terapi yang belum teruji dan menunggu terlalu lama untuk mencari pertolongan medis.

“Ini mengherankan dan menyesatkan. Ini akan mendorong orang untuk duduk di rumah, meminum ramuan itu, dan saat mereka sampai di rumah sakit semuanya sudah terlambat,” kata Rajam Sharma, mantan presiden Indian Medical Association (IMA).

Dalam pernyataannya tahun lalu, WHO mengatakan bahwa penggunaan produk yang belum teruji untuk mengobati Covid-19 dapat “menempatkan seseorang dalam bahaya, memberikan rasa aman yang palsu, dan mengalihkan perhatian mereka dari mencuci tangan dan menjaga jarak fisik yang penting dalam pencegahan Covid-19”.

Sementara Direktur Eksekutif Internet Freedom Foundation, Apar Gupta berkata, gegara pernyataan pejabat setempat seolah ilmu pengetahuan tak ada artinya. “Ketika Anda memiliki pejabat publik yang mendukung hal itu, jelas rasa hormat terhadap sains berkurang.”

Banjir misinformasi di India itu diperparah dengan masih rendahnya literasi digital dan media sosial. Menurut Rajneil Kamath, penulis di situs pengecekan fakta NewscheckerIn, orang-orang mendapatkan teknologi murah berbasis internet di ponsel cerdas mereka, tapi tidak memiliki pendidikan yang diperlukan tentang cara menilai kebenaran klaim yang terdapat dalam sebuah pesan.

“Kadang-kadang mereka tertipu oleh lowongan kerja palsu atau tawaran isi ulang pulsa palsu dalam pesan berantai yang mereka terima,” ujar Kamath.

Selama pandemi Covid-19, berita yang kredibel sering kali tenggelam oleh informasi online yang tidak terverifikasi. Meskipun ada beberapa organisasi pemeriksa fakta, upaya mereka sering kali terbebani oleh banyaknya jumlah berita palsu yang beredar.

“Misinformasi bergantung terhadap daya tarik bias yang melekat pada penerima dan emosi mereka, yang cocok untuk daya tarik dan viralitas yang lebih luas. Pengecekan fakta sering kali menghilangkannya. Selain itu, di WhatsApp, ada jaringan yang mapan untuk berbagi misinformasi,” Nikhil Pahwa, aktivis hak digital dan pendiri portal berita MediaNama.

Khandelwa berbagi aturan ketat yang diadopsi oleh keluarganya untuk menahan gelombang misinformasi, yaitu “no forwards, no fake news”. Sejauh ini, aturan yang melarang anggota keluarga Khandelwa untuk meneruskan pesan berantai itu dipatuhi. Menurut dia, perlu ada anggota keluarga yang memainkan peran kunci dalam membatasi misinformasi.

“Sejak saya mulai memberi tahu orang tua saya tentang berita palsu di WhatsApp, mereka lebih memperhatikan pesan yang mereka terima,” katanya.

Tapi mengingat skala misinformasi yang dihadapi oleh dunia saat ini, menurut Khandelwa, sangat berat rasanya jika tanggung jawab untuk memeriksa informasi hanya ada pada masing-masing individu. (***)

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.