Ayah dan Saudaranya Dituduh Mencuri Besi Tua, Kakak Beradik di Batam Mencari Keadilan

INTREN.ID, BATAM – Dua kakak beradik di Batam masing-masing Andri Majid Saputra (17) dan Tri Aldiansyah (24) mencari keadilan. Lantaran sang ayah, Dedy Supriadi dan kakaknya, Dwi Buddy Santoso ditengarai menjadi korban ketidakadilan, yang ditetapkan dalam kasus pencurian besi tua dan telah dijebloskan di penjara.

Didampingi juru bicara keluarga Suprapto dan kuasa hukum keluarga Yusuf Norrisaudin, kakak beradik itu mengatakan bahwa orang terkasih mereka dilaporkan melakukan pencurian oleh pengusaha berinisial KSD alias AH pada 2 Mei 2019 lalu.

Kata Andri, KSD adalah pengusaha yang sebelumnya membeli besi tua dari perusahaan JS & E Sdn Bhd. Perusahaan ini berlokasi di Kabil milik pengusaha berinisial MJA. Namun dalam pembelian itu belum dilakukan pembayaran secara penuh.

Karena pembayaran dari penjualan belum juga dilakukan oleh KSD, Akhirnya MJA menginstrusikan orang kepercayaannya, Saw Tun untuk menjual lagi besi tua yang belum dibeli oleh KSD. Tujuannya untuk biaya operasional perusahaan.

Atas perintah tersebut, Saw Tun memerintahkan Dedy dan Dwi melakukan pemotongan serta penjualan karena minimnya mitra yang dimiliki oleh Saw Tun. Pada penjualan kedua ini, terdapat besi tua sebanyak 100 ton yang dijual kepada pengusaha berinisial N pemilik perusahaan PT RSU yang dibeli secara tunai.

Alih-alih membayar kekurang transaksi yang telah dilakukan, KSD malah mengaku sebagai pemilik besi tua yang telah dijual itu. Dia lantas dan melaporkan Dedy, Dwi serta Saw Tun ke Polda Kepri dengan tuduhan pencurian.

“Ayah saya Dedy dan Abang saya Dwi mendapatkan perintah dari pemilik perusahaan MJA melalui tangan kanannya bernama Saw Tun. Untuk memotong dan menjual sebagian crane untuk biaya operasional perusahaan ke depannya,” ungkap Andri kepada awak media, Senin (26/10/2020).

Atas hal tersebut, Dedy, Dwi, serta Saw Tun yang merupakan warga negara Myanmar ditetapkan tersangka dan ditahan pada tanggal 7 Desember 2019 lalu. Namun setelah menjalani sidangnya pada 18 Mei 2020 divonis dalam putusan nomor perkara 170/Pid.B/2020/PN BTM, Dedy dan Dwi dijatuhi vonis selama dua tahun. Sementara vonis Saw Tun lebih ringan yaitu enam bulan saja.

Kuasa hukum keluarga, Yusuf Norrisaudin menunjukkan beberapa barang bukti yang dimilikinya. (Agung/intren.id)

 

Kuasa hukum keluarga, Yusuf Norrisaudin juga mengungkapkan beberapa kejanggalan dalam proses pemeriksaan dari penyidik Polda Kepri yang telah sampai di pengadilan. Antara lain barang bukti yang dimiliki oleh Dedy berupa perintah untuk menjual besi tua dari pemilik asli tidak ditindaklanjuti oleh penyidik.

Kemudian, keterangan saksi yang ditulis dalam putusan pengadilan juga tidak sesuai dengan fakta keterangan dari para saksi yang diberikan.

- ADVERTISEMENT -

“Anehnya lagi, penyitaan satu unit ponsel milik Saw Tun yang berisi perintah jual dari MJA baru disita pada tanggal 3 Juli 2020 atau sebulan setelah Saw Tun dibebaskan dari Lapas,” kata Yusuf.

Menurutnya, oknum pembantu penyidik melakukan penyitaan barang bukti secara tidak prosedural. Karena dalam surat tanda terimanya tidak dilengkapi nomor surat serta tidak ada saksi-saksi dan tidak dipergunakan sebagaimana mestinya sebagai barang bukti.

“Padahal jika perintah menjual dalam ponsel tersebut dipakai sebagai salah satu barang bukti, seharusnya bisa membantu kejelasan dalam kasus yang tengah diselidiki bahwa tidak ada unsur pidana dalam penjualan potongan besi tua tersebut,” beber Yusuf.

Bahkan pengusaha berinisial N dari perusahaan PT RSU yang membeli besi tua itu juga telah ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap menjadi penadah barang curian.

Hal ini juga telah dilaporkan kepada Divisi Propam Polda Kepri dan telah dalam penyelidikan. Untuk bisa mendapatkan ponsel yang diindikasi disita dan disimpan tidak sesuai prosedur. Diduga ini penyitaan itu untuk menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya tidak ada tindakan pencurian yang yang terjadi.

Pihak keluarga juga berharap, jika terbukti para oknum penyidik melakukan kecurangan dalam proses penyidikan maka bisa diberi sanksi pelanggaran kode etik. Atau bahkan pemidanaan jika memungkinkan.

“Keluarga juga berharap bisa segera melakukan upaya PK (Peninjauan Kembali) atas vonis yang diterima Ayah dan Abang dari Andri, dengan harapan agar Dedy dan Dwi bisa dibebaskan. Dan jika nantinya terbukti tidak terdapat tindak pidana pencurian maka patut diduga bahwa KSD alias AH telah melakukan upaya-upaya mengelabui hukum bersama-sama dengan oknum penyidik,” tegas Yusuf.

Sementara itu Suprapto mengungkapkan atas vonis yang diterima tersebut, sangat mempengaruhi kondisi keluarga Andri. Karena Dedy sang ayah merupakan tulang punggung dari keluarga tersebut.

“Selain itu kondisi kesehatan Andri juga menghawatirkan, setelah kecelakaan yang dialaminya yang mengakibatkan patah tangan serta gangguan pada saraf otak sehingga sering kejang-kejang,” ucap Suprapto.

Pihaknya juga menyampaikan apresiasi kepada Propam Polda Kepri karena telah menerima aduan tersebut secara baik dan langsung ditindaklanjuti dengan cepat. Salah seorang personel Propam Polda Kepri saat dihubingi intren.id membenarkan adanya laporan itu dan telah dalam proses penyidikan. (***)

Reporter: Agung Maputra

Get real time updates directly on you device, subscribe now.