APHI Dukung Pencegahan Karhutla dengan Modifikasi Cuaca

INTREN.ID, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Indroyono Soesilo menyampaikan apresiasi atas upaya bersama mencegah dan menanggulangi karhutla. Khususnya di lahan gambut melalui teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan instansi lainnya serta mitra kerja.

Temasuk anggota APHI yang berkontribusi positif menekan laju karhutla dan mengurangi titik api (hotspot) sampai dengan bulan Mei 2020 ini.

“APHI dan anggotanya mendukung penuh upaya tersebut, khususnya untuk mempertahankan kebasahan lahan gambut,” tutur Indroyono.

TMC dilakukan KLHK dalam upaya pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Riau. Apalagi saat ini telah memasuki musim kering.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus. Rekayasa hujan melalui TMC dilakukan karena mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di Riau telah menunjukkan pada level siaga bahkan bahaya.

“Saya mendapat laporan, volume air hujan alami ditambah hasil upaya rekayasa hujan yang dilakukan beberapa hari ini telah menambah tinggi muka air tanah gambut di Riau naik ke level aman,” kata Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar.

Dijelaskan, upaya antisipasi ini guna mencegah terjadinya karhutla. Pasalnya gambut kering sangat mudah terbakar dan sangat sulit dipadamkan. Untuk itu kepada kalangan dunia usaha diharapkan kerja sama melakukan transfer teknologi gambut kepada masyarakat.

“Khususnya untuk teknologi pemantauan tinggi muka air tanah pada lahan gambut,” sebut Siti.
Berdasarkan pantauan satelit NOAA, dari Januari hingga awal Mei 2020 terdapat 25 titik panas atau hotspot. Terjadi penurunan 94% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 lalu sebanyak 420 hotspot.

Sedangkan jika menggunakan data satelit Terra Aqua, hotspot periode Januari hingga April 2020 sebanyak 746 titik api atau terjadi penurunan hotspot 440 titik atau 37,1% dari data hotspot tahun 2019 lalu sebanyak 1.186 titik dengan confidence level ≥ 80%.

Khusus untuk Provinsi Riau, jumlah hotspot tanggal 1 Januari-20 Mei 2020, tercatat 271 titik dengan confident 80-100%. Jumlah ini menurun bila dibandingkan pada periode sama tahun lalu yang mencapai 503 titik.

- ADVERTISEMENT -

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Tri Handoko Seto menjelaskan, aplikasi TMC paling tepat dilakukan pada saat periode peralihan musim hujan ke musim kemarau. Karena pada periode tersebut bibit awan masih banyak.

Dalam konteks ini, keberhasilan hujan buatan ini tentunya juga tidak terlepas dari ketergantungan terhadap ketersediaan awan yang diberikan oleh alam.

“Artinya jika awannya banyak, kami juga akan dapat menginkubasi lebih banyak dan otomatis akan menghasilkan hujan yang lebih banyak juga, begitupun sebaliknya. Di sinilah pentingnya rekomendasi BMKG,” ujar Seto.

Sebagai bagian dari kerja sama dengan KLHK untuk mendukung upaya pembuatan hujan buatan di pulau Sumatra, BPPT telah menyiapkan 28 ton garam NaCl sebagai bahan semai selama 19 hari mulai 13-31 Mei 2020 di Riau dan mulai tanggal 2 Juni akan dilanjutkan selama 15 hari di Sumsel.

Menurut Seto, operasi penerapan TMC untuk Riau ini merupakan kelanjutan dari operasi yang dilaksanakan 11 Maret sampai 2 April 2020.

”Sampai dengan tanggal 25 Mei, total penerbangan untuk misi TMC mencapai 22 jam, dengan penggunaan bahan semai sebanyak 8,8 ton. Aplikasi TMC ini menghasilkan 33,8 juta m3 air hujan, dan hasilnya dalam beberapa hari terakhir tidak terpantau ada hotspot di wilayah Riau,” kata Seto.

Lebih lanjut Seto menjelaskan, TMC amat berguna untuk aplikasi kehidupan sehari-hari yang bergantung pada faktor alam/cuaca. TMC bisa diaplikasikan untuk mitigasi bencana banjir seperti yang dilakukan di wilayah Jabodetabek.

“Selain itu juga terbukti dapat mencegah dan mengatasi karhutla, pengisian waduk untuk sarana irigasi dan pembangkit listrik, membasahi lahan gambut, serta mengatasi masalah kekeringan,” bebernya.

“Terkait karhutla, aplikasi TMC semakin efektif jika didukung upaya – upaya pencegahan dan pemadaman secara kolaboratif oleh para pihak di tingkat tapak,” pungkas Seto. (***)

Editor: Lukman Maulana

Get real time updates directly on you device, subscribe now.