- ADVERTISEMENT -

- ADVERTISEMENT -

Ancaman Reshuffle dari Presiden

Oleh Farkhan Evendi, Ketua Umum Bintang Muda Indonesia

INTREN.ID, JAKARTA – Khalayak tentu kaget dengan ancaman reshuffle presiden di depan publik terkait kinerja para menterinya yang di bawah standar dan disertai ancaman reshuffle

Sederhana saja, apa ini menyelesaikan masalah, akar masalahnya kan di presiden dalam hal ini top leader-nya presiden kabinet itu

Ibarat kepala rumah tangga seorang presiden, istri adalah tangan kanan presiden dan anak adalah rakyatnya, apakah pantas kepala keluarga mengkritik istrinya di depan anak atau bahkan khalayak luas tentu ada masalah terkait leadership-nya kenapa tak dibicarakan saja di internal

Atau jangan-jangan memang ada menteri yang mau mundur karena tidak nyaman dengan presiden lalu presiden terbawa emosi dengan bilang ke publik

Eksploitasi kemarahan tentu nanti bila disertai reshuffle akan membuat psikologis seorang menteri yang di-reshuflle mengalami tekanan batin yang luar biasa dan wujud tak ada ucapan terima kasih seorang presiden pada bawahan

Adakah presiden selama ini berterima kasih pada menterinya, adakah presiden selama ini benar-benar membuat menteri bekerja dengan visi Nawacitanya sehingga tidak menabrak daripada aspirasi rakyat dan narasi-narasi kerakyatan maupun persatuan nasional, tak mungkin sopir memarahi kondektur di depan umum kalau memang kondektur bermasalah turunkan baik-baik di tengah jalan.

Isu reshuffle juga bisa memancing spekulasi ada partai yang mau menaikkan jangkarnya terhadap sumber daya kekuasaan menghadapi Pemilu 2024 yang semakin berat

PERANG INTERNAL ISTANA

Ini juga menurut saya akan memicu perang di internal istana setelah sebelumnya saling serang antar kelompok pendukung Joko Widodo terkait penunjukan Komisaris BUMN.

Ancaman reshuffle adalah menimbulkan kegaduhan baru, kegaduhan itu menambah sejumlah kegaduhan ketika energi kita lagi difokuskan pada penanggulangan dampak Covid-19. Pak presiden perlu diingatkan untuk meningkatkan kepercayaan diri, political will dan solidaritas antarelemen untuk bersama melawan Covid-19.

- ADVERTISEMENT -

Bintang Muda Indonesia (BMI) melihat saat ini situasi memanas di tengah tidak adanya penghargaan presiden pada menteri yang sudah bekerja keras yang secara otomatis presiden tidak menghargai jerih payahnya sendiri dalam mengoordinasikan para menteri untuk melawan krisis sosial dan krisis pandemi Covid-19 ini.

Bintang Muda Indonesia (BMI) mengimbau, sebaiknya presiden untuk lebih serius bergerak dan tidak perlu curhat ke publik soal yang tidak perlu seperti mengancam menteri dan lain sebagainya. Di negara sedemokratis apapun jarang ada presiden mengancam akan melakukan reshuffle. Minimal yang berbicara reshuffle adalah juru bicaranya, itupun khusus menjawab bila memang ada tekanan publik.

Bila gaya komunikasi presiden transformatif dan presiden mampu menciptakan budaya kerja tahan banting dan prorakyat, maka semestinya akan diikuti oleh menterinya. Bila lemah di dalam diri presiden, maka presiden sendiri pun tak kan mampu menahan ketakmampuan dirinya mengatur menteri di depan publik. Jadi inti masalahnya ada di top leader dalam hal ini presiden.

Pada dasarnya kita melihat nama-nama terbaik ada di kabinet adalah nama-nama terbaik, yang terbaik menurut kriteria partai pendukung pemerintah.

Bukan pada prestasi mereka sebelum jadi menteri maupun pengalamannya.

Waktu sudah berjalan hampir satu tahun, kabinet ini berjalan tanpa narasi-narasi besar yang membuat Indonesia maju di bidang-bidang krusial baik aspek pendidikan, tekhnologi, militer, ekonomi maupun sosial budaya.

Presiden perlu memasukkan nama nama profesional di bidangnya. Teknologi, siapa saat ini tokoh yang sedang naik daun di aspek ini. Pendidikan, kenapa tak memilih dari kalangan yang teruji memperhatikan nasib anak kurang mampu. Ekonomi, kenapa tak memilih sosok ekonom proekonomi kerakyatan yang teruji. Menteri Kesehatan, kenapa tak cari sekaliber Siti Fadilah Supari dalam melawan pandemi global.

Bisikan partai pendukung saya kira sudah cukup! Karena terbukti titipan mereka gagal dan ugal-ugalan membawa arah bangsa ke visi Indonesia Maju.

Presiden harus pukul balik partai-partai maupun elemen yang merekom nama partai tapi kemudian merusak performansi presiden di mata rakyat dengan mengabaikan kelompok-kelompok itu.

Presiden juga harus terbuka pada opini umum mengenai nama-nama baru yang dipersiapkan menggantikan posisi menteri yang mau di-reshuffle, betapa dulu presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selalu mendengar opini publik terkait menteri yang mau di-reshuffle. (***)

 

Editor: Guntur Marchista Sunan

Get real time updates directly on you device, subscribe now.